Kisah »

Menjadi Da’i Harus Pandai Tahan Emosi

hb umar dan anak kecil perempuan

Dulu, di awal-awal dakwah al-Habib Umar bin Hafidz BSA beliau menziarahi salah seorang ulama. Ternyata orang (ulama) yang diziarahi itu termasuk mereka yang tidak suka dan iri dengan dakwah Habib Umar. Maka bukannya disambut dengan baik, beliau malah disuguhi caci-makian oleh si tuan rumah: “Kamu ini, masih muda sok sok dakwah segala dan bla bla bla…”

Habib Umar bin Hafidz hanya terdiam, lalu mendunduk penuh adab dan tetap mendengar ucapan orang itu sampai selesai. Ketika orang itu sudah puas dan lelah dengan caci-makinya, maka Habib Umar pun menangis lantas berkata: “Sayyidi (Tuanku), semua yang engkau ucapkan hanyalah sebagian dari aib-aibku yang kau ketahui. Masih banyak lagi aib dan dosa diriku yang hina ini yang belum engkau ketahui.”

Alkisah, suatu hari Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib Ra. lewat di sebuah jalan bersama para muridnya. Tiba-tiba seseorang mendatangi dan menampar pipi beliau sekeras-kerasnya. Orang itu kemudian lari yang menjadikan para murid Sayyidina Ali Zainal Abidin marah besar dan berusaha mengejar orang itu. Tapi guru mereka malah tetap tenang, bahkan tersenyum dan berkata: “Siapa yang menghendaki hal ini terjadi padaku?”

Mereka menjawab: “Allah.”

“Apakah kalian kira aku akan menolak kehendak dan takdir Allah (yang terjadi pada diriku ini)?” pungkas Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra.

Dari 2 kisah ini bisa diambil pelajaran bagaimana cara mengatasi emosi ketika kita hendak meluapkan kemarahan pada orang lain. Ingatlah bahwa:
1. Siapa sih diri kita ini sebenarnya, bukankah kita ini cuma hamba kurang ajar yang hobinya berbuat dosa? Apa orang hina seperti kita pantas dihormati dan dipuji-puji orang? Kalau mereka tahu aib-aib kita, jangankan salaman, kenal sama kita saja mereka tak akan mau (meminjam kalimatnya Habib Ali al-Jufri).
2. Kita harus tau kalau di dunia ini tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak dan takdir Allah. Kalau begitu apa gunanya ngamuk-ngamuk tak jelas gara-gara hal yang telah dihendaki dan diputuskan olehNya? Bukankah kita sebgai hamba harus tunduk, patuh dan ridha atas semua yang diputuskan “Tuannya”?
3. Alhasil, dengan “berkah” cinta kita kepada mereka para auliya’ Allah, semoga kita masih bisa menjadi orang yang “tahan emosi”, kalem dan santun selayaknya mereka-mereka itu. Aamiin. (Sumber: Ust. Ahmad Afif Tawes, Santri Rubath Darul Musthafa Yaman).