Featured Post Today
print this page
Latest Post

Habib Ali Al-Jufri Ajarkan Cinta Kasih Pada Sesama


“Kekuatan Cinta”

Maulana al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Jufri senantiasa mengajarkan kepada kita akan penting cinta kepada sesama. Diantara yang disampaikan beliau adalah:

“Tak sempurna keyakinan di dalam hati kita jika belum diwujudkan dalam bentuk cinta kepada sesama. Yakni tetap berbuat baik kepada orang lain, meskipun ia jahat, biarpun ia fasiq, bahkan kafir atau mengingkari Tuhan sekalipun. Sulit bukan? Memang sulit!

Karena mencintai adalah hal yang sulit, maka ia adalah tantangan besar. Karena ia adalah tantangan besar, maka ia membutuhkan kekuatan yang besar. Hingga akhirnya kita pun tahu, bahwa cinta membutuhkan kekuatan, atau sebaliknya, karena cinta lahirlah kekuatan.”
0 comments

Qasidah Habib Umar bin Hafidz Dipuji Ulama Mesir



Beberapa tahun yang lalu, al-Habib Umar bin Hafidz berkunjung ke Mesir. Dalam kunjungannya tersebut, beliau menyempatkan untuk berziarah kepada seorang ulama Mesir yang cukup berpengaruh di negaranya. Ulama sepuh tersebut dikenal memiliki bashirah (pandangan hati yang tajam) walaupun mata beliau tidak bisa melihat (buta).

Ketika itu al-Habib Umar bin Hafidz ditemani oleh muridnya, al-Habib Ali al-Jufri, dan beberapa orang lainya. Sebelum mereka sampai ke tempat sang syaikh, sang syaikh lebih dulu tahu, beliau berkata: “Aku mencium bau harum dari ulama Hadhramaut.”

Tak lama kemudian, al-Habib Umar beserta rombongan pun datang. Al-Habib Umar pun mulai beramah tamah dengan syaikh tersebut.

Tatkala ziarah dirasa cukup, al-Habib Umar pun memerintahkan seorang munsyid dari rombongan beliau untuk melantunkan sebuah qasidah. Munsyid itu pun memilih untuk membawakan qasidah karya al-Habib Umar. Ternyata qasidah itu membuat sang syaikh ta’jub. Ketika qosidah telah selesai dilantunkan, sang syaikh langsung bertanya: “Qasidah ini karya siapa?”

Ketika munsyid itu hendak mengatakan bahwa qasidah itu adalah karya al-Habib Umar, ternyata al-Habib Umar mendahuluinya dengan berkata: “Ini adalah salah satu karya ulama Hadhramaut.” (jawaban ini menunjukkan ketawadhuan beliau).

Syaikh itu pun menanggapi jawaban itu: “Kalau sekiranya ulama itu masih hidup, maka dia berhak untuk didatangi oleh orang-orang dan orang-orang itu belajar kepadanya serta mengambil manfaat darinya. Kalau ulama itu telah meninggal, maka kuburannya berhak untuk diziarahi.”

Walaupun al-Habib Umar sering mendapatkan pujian seperti ini, beliau tidak pernah merasa bangga, buktinya beliau sering sekali menyempatkan waktunya untuk menziarahi para ulama yang telah sepuh di negara yang dikunjunginya. Maka, sudah sepatutnya bagi kita untuk mencintai para ulama dan kaum shalihin, karena kecintaan itu insya Allah akan memberikan kita manfaat di dunia dan akhirat kelak. Wallahu A’lam.
0 comments

Kaidah-kaidah dalam Menyikapi Permasalahan Masyarakat

 Fiqih Dakwah:

Aktivitas masyarakat dewasa ini berkembang begitu cepat dan pesat, melampaui kecepatan berpikir manusia. Demikian ungkap Dr. Ali Gomah, Mufti Negara Mesir. Realita ini berdampak pada munculnya penyikapan-penyikapan yang cenderung datar dan mengambang dari berbagai macam lapisan masyarakat, termasuk diantaranya para da’i. Sehingga tidak jarang sikap-sikap tersebut bukannya menyelesaikan masalah. Akan tetapi malah sebaliknya, semakin menambah runyam permasalahan yang ada.

Oleh karena itu, kiranya sangat diperlukan adanya kaidah-kaidah khusus dalam menyikapi berbagai permasalahan masyarakat, terutama bagi para da’i. Dengan mengikuti kaidah-kaidah ini, diharapkan para da’i dapat lebih arif dalam menyikapi setiap permasalahan yang sedang terjadi serta mampu menyelesaikannya. Hal ini tentunya akan sangat mendukung keberhasilan dalam berdakwah.

Berikut ini adalah beberapa kaidah dimaksud yang disarikan dari Kajian Fiqih Dakwah yang diasuh oleh Habib Ali al-Juffri dan disampaikan kepada para peserta Daurah Shaifiyah XV Pesantren Darul Mushthafa, Tarim Hadhramaut Yaman, pada hari Sabtu malam Ahad, 5 Sya’ban 1431 H/17 Juli 2010 M dengan beberapa pengurangan dan penambahan tanpa merubah subtansinya.

1. Mengaitkan akar permasalahan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Seorang da’i jangan hanya berupaya menangani sebuah permasalahan dari akarnya, tanpa mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga tampak kaku dan kurang dapat dicerna oleh masyarakat. Jangan pula hanya terkonsentrasi kepada apa yang muncul di permukaan, tanpa memperhatikan akar permasalahan yang sebenarnya.

2. Pengecekan terlebih dahulu validitas informasi yang didapat sebelum mengambil sikap dan melakukan reaksi. Seorang da’i tidak diperkenankan menerima begitu saja informasi yang beredar di masyarakat dari berbagai media massa. Akan tetapi dia harus melakukan cek dan ricek terlebih dahulu kepada sumber yang betul-betul dapat dipercaya. Baru kemudian menentukan sikap yang tepat.

3. Memilih solusi terbaik dalam menyelesaikan masalah antara diam atau melakukan reaksi. Karena tidak semua permasalahan harus diselesaikan dengan melakukan sebuah reaksi. Banyak diantara permasalah justeru akan lebih cepat selesai dengan cara diam.

4. Menghindari pemerataan (ta’mim), baik dalam mengungkapkan pujian ataupun celaan. Sesuai dengan firman Allah Swt.:

ومن أهل الكتاب من إن تأمنه بقنطار يؤده إليك ومنهم من إن تأمنه بدينار لا يؤده إليك إلا ما دمت عليه قائما

“Dan diantara Ahli Kitab ada yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada (pula) diantara mereka yang jika engkau percayakan kepadanya satu dinar, dia tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika engkau selalu menagihnya.” (QS. Ali Imran ayat 75).

5. Tidak gegabah dan tergesa-gesa dalam upaya penyelesaian masalah. Dengan kata lain, pengambilan sebuah sikap dan tindakan haruslah didasari pertimbangan yang matang; apakah tindakan yang akan diambil efektif ataukah tidak?

Kewajiban seorang da’i dalam menyikapi sebuah permasalahan adalah berupaya untuk menyelesaikannya (tafa’ul ma’ al-isykal). Bukan menampakkan perasaan emosi dan marah dengan segala cara (infi’al bi al-musykilah). Poin ini sangat penting untuk diperhatikan. Karena pengambilan tidakan yang salah justeru akan membuat permasalahan menjadi semakin besar.

Ambil saja contoh aksi-aksi pelecehan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Barat yang berhaluan ekstrim dan fundamental terhadap al-Quran atau Nabi Muhammad Saw. Mayoritas umat Muslim, yang diantaranya mendapatkan arahan dari sebagian pemuka agama Islam, menyikapinya dengan kepala panas. Sehingga pada akhirnya berbuntut pada tindakan-tindakan anarkis seperti pembakaran, pengrusakan, penghancuran aset-aset Barat dan lain-lain.

Berbagai tindakan ini kemudian dimanfaatkan oleh media massa Barat untuk semakin memojokkan Islam. Sehingga tidak heran jika kemudian banyak diantara orang Barat yang asalnya tidak peduli atau bahkan mengecam tindakan pelecehan tersebut, menjadi berubah pikiran dan berbalik arah mengecam tindakan-tindakan anarkis umat Muslim. Citra Islam menjadi semakin buruk di mata Barat.

Dengan demikian, secara tidak sadar berarti kita telah mempersempit atau bahkan menutup pintu kesuksesan untuk berdakwah dan misi Islamisasi di Barat. Segelintir orang yang melakukan pelecehan tersebut, semakin bergembira dan tertawa terbahak-bahak menikmati hasil upaya mereka yang jauh melampaui apa yang mereka bayangkan sebelumnya.

Namun, bukan berarti kita hanya diam membisu menyaksikan pelecehan-pelecehan tersebut. Kita tetap harus mengambil sikap serta melakukan tindakan untuk menghentikannya. Hanya saja, sebelum melakukannya, terlebih dahulu harus dipikirkan masak-masak efektifitas tindakan tersebut.

Jika seandainya saat itu umat Islam tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis serta menyerahkan penyelesaian masalah kepada para ulama dan kemudian para ulama mengambil tindakan-tindakan yang dianggap efektif untuk menghentikannya. Misalnya dengan mengadakan dialog-dialog terbatas dengan para pemuka Barat, tentu kenyataannya akan berbeda.

6. Berupaya semaksimal mungkin menghindari adanya indikasi pemihakan (tahayyuz) terhadap kelompok tertentu dalam penyampaian sikap. Seorang da’i haruslah mengambil kebenaran serta berupaya meluruskan kesalahan dari kelompok manapun.

7. Menghargai para ahli dalam bidang apapun (ihtiram at-takhashshush). Atau dengan kata lain, seorang da’i tidak diperkenankan untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak ia kuasai. Seorang da’i yang kurang menguasai ilmu ekonomi misalnya, seharusnya tidak berbicara panjang lebar mengenai sebab-sebab krisis ekonomi serta solusi dalam mengatasinya. Agar tidak menjadi bahan tertawaan para ekonom.

Contoh lain, seorang da’i yang kurang menguasai pemikiran liberal serta cara membantahnya misalnya, tidak selayaknya melakukan debat terbuka dengan kaum liberal. Agar tidak menjadi bahan tertawaan masyarakat, sehingga mengesankan seolah-olah kaum liberallah yang berada di jalan kebenaran. Bukanlah sebuah aib, jika seorang da’i mengatakan: “Saya tidak tahu.”

8. Menghindari cara-cara yang justeru dapat memperluas permasalahan pada masyarakat umum. Seorang da’i janganlah berpidato atau berceramah tentang sebuah permasalahan, di hadapan masyarakat yang sama sekali tidak mendengar dan tidak tahu-menahu permasalahan tersebut. Kecuali sekedar untuk memperingatkan mereka agar jangan sampai terjerumus ke dalamnya. Seorang da’i janganlah berceramah panjang lebar tentang liberalisme misalnya, di hadapan masyarakat pedesaan yang sama sekali tidak mengetahui hal ini. Kecuali sekedar mengingatkan mereka agar jangan sampai mengikuti orang-orang yang berpikiran nyeleneh dan berpesan agar tetap berpegang teguh dengan apa yang diajarkan oleh para salafus shalih.

9. Menghindari sikap ambivalensi (plin-plan) dalam menyikapi sebuah permasalahan. Seorang da’i janganlah berkata A di timur, tapi kemudian berkata B di barat. Tidak ada masalah seandainya dia hanya menerapkan cara yang berbeda dalam menyampaikan sikap, sesuai dengan situasi masyarakat yang sedang ia hadapi, tetapi dengan syarat subtansinya harus tetap sama. Yang terlarang adalah ambivalensi sikap yang sampai pada taraf berlawanan. Karena hal ini dapat menghilangkan kepercayaan kedua kelompok masyarakat terhadapnya.

Satu contoh, ketika terjadi kasus pelecehan terhadap Nabi Muhammad Saw. oleh salah satu media massa Denmark, ada seorang da’i yang tidak diragukan keikhlasannya dalam berdakwah, jatuh martabatnya gara-gara tidak mengikuti kaidah ini. Kepada umat Islam dia menyeru untuk melakukan pemboikotan terhadap produk-produk Denmark. Tetapi ketika dia berkunjung ke Barat dan ditanya apakah dia menyeru untuk melakukan pemboikotan, dia menyatakan tidak. Selang sehari setelah pernyataanya itu, beberapa media massa memuat fotonya di bawah judul; Syekh Pembohong Besar. Tak ayal lagi, kepercayaan masyarakat terhadapnya menjadi pudar. Baik dimata umat Islam maupun di mata masyarakat Barat.

10. Menghindari penyebutan nama individu atau kelompok yang sedang dikritik sebisa mungkin. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw., dengan menggunakan kalimat: “Ma balu qaumin”, dan yang semisal tanpa menyebutkan nama kaum tersebut.

Inilah kaidah-kaidah utama sebagai penunjang kesuksesan dalam berdakwah, yang dapat saya tangkap dari apa yang disampaikan oleh beliau selama kurang lebih satu jam. Sebelum mengakhiri muhadharahnya, beliau menegaskan bahwa tugas seorang da’i adalah berupaya meluruskan sebuah kesalahan (mu’alajah al-khatha’), bukan memusuhi orang yang melakukan kesalahan (mu’adah al-mukhthi’). Wallahu A’lam.

(Ditulis oleh: Ustadz Badruttamam Hasan, Koordinator Dept. Pendidikan & Dakwah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Yaman 2009-2010 M. Wilayah Hadhramaut/www.nuyaman.com).
0 comments

Pentingnya Selektif Memilih Ulama

Oleh: Ust. Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf


Assalamualaikum wr.wb.
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita, sehingga pada malam hari ini kita bisa berkumpul dalam peringatan haul ini.

Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang dikutip oleh Al-Imam Al-Ghozali Ra dalam kitab beliau Ihya Ulumuddin. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: "Janganlah kamu duduk (belajar) kepada setiap orang alim, kecuali orang alim yang mengajak kalian dari lima hal menuju lima hal yang lain: Pertama, dari keragu-raguan menuju keyakinan. Kedua, dari kesombongan menuju ketawadhu'an. Ketiga, dari permusuhan menuju perdamaian. Keempat, dari riya menuju ikhlas, dan kelima, dari ketamakan menuju zuhud (HR Ibnu 'Asyakir dari Jabir RA)

Ilmu itu ibarat pedang. Jika pedang itu dibawa oleh Sayyidina Umar Ra, maka pedang akan sangat bermanfaat dalam melindungi muslimin serta menegakkan agama Allah. Namun jika pedang ini dibawa oleh Abu jahal, maka pedang justru akan sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Begitu juga ilmu. Jika ilmu didapat dari orang yang baik, maka ilmu akan bermanfaat. Namun apabila ilmu yang sama didapat dari orang-orang yang tak bertanggung-jawab, maka ilmu justru akan berbahaya bagi orang-orang di sekitarnya.
Ilmu ibarat air yang turun dari langit. Apabila air diserap oleh pepohonan yang rindang atau buah-buahan yang lezat, maka air itu akan memberikan manfaat yang bisa dinikmati hasilnya. Tetapi apabila air yang turun justru diserap oleh tumbuh-tumbuhan yang berbahaya seperti ganja, opium dsb maka air ini justru akan merugikan kesehatan dan berdampak negatif bagi masyarakat. Begitu pula ilmu. Rasulullah SAW telah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat namun ilmu tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh orang-orang yang baik. Terkadang "ilmu yang mulia itu justru diterima oleh orang-orang yang tidak baik. Akibatnya tak jarang ilmu ini justru disalah gunakan untuk kepentingan dunia belaka. Oleh karena itu kita harus barhati-hati dalam mencari ilmu. Selain harus memilih-milih ilmu yang akan kita pelajari, hal yang tak kalah penting adalah selektif kepada orang yang akan kita jadikan panutan dalam mendapatkan ilmu.

Rasulullah SAW menerangkan kepada kita kriteria ulama yang layak dan aman untuk kita jadikan sebagai panutan dan kita nobatkan sebagai guru religius dalam menuntun kehidupan kita.

Pertama
Adalah ulama yang menuntun kita dari keragu-raguan menuju keyakinan.
Dalam berguru hendaknya kita harus senantiasa mengacu pada orang-orang yang mampu membuat kita semakin mantap dan yakin dengan aqidah kita, yaitu Islam ala ahlussunah wal jama'ah/ Jangan sekali-kali berguru pada ulama yang justru membuat keragu-raguan pada keyakinan kita. Sikap serampangan dan asal-asalan dalam memilih guru akan menimbulkan sikap fanatisme berlebihan yang akan membuat kita tidak obyektif dalam menilai sebuah kebenaran. Pada akhirnya kita akan ikut apa pun yang diutarakan oleh sang guru meski ternyata bertentangan dengan keyakinan yang telah kita akui kebenarannya. Oleh karena itu pilihlah ulama yang mampu membawa keyakinan kita menjadi semakin kuat.

Kedua
Adalah ulama yang menuntun kita dari dari kesombongan menuju ketawadhu'an.
Inilah kriteria kedua yang diberikan oleh Rasulullah SAW dalam memilih ulama. Para Ulama menerangkan bahwa sifat kibr (kesombongan) yang paling rendah adalah ketika merasa diri kita lebih baik dari orang lain. Kesombongan memang merupakan sikap yang sangat tercela. Bahkan seseorang yang masih menyisakan kesombongan di hatinya walau hanya satu bjji sawi saja, maka ia haram untuk memasuki surga Allah SWT. Disabdakan oleh Rasulullah SAW:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya masih menyimpan kesombongan walau pun hanya sebiji sawi." (HR. Abu Ya'la)

Karena sifat ini jugalah maka 'azazil (asal-usul iblis) yang sudah beribadah ribuan tahun diusir oleh Allah SWT dari surga. Ketika diperintahkan untuk menghormat kepada Nabi Adam, ia enggan untuk melakukan perintah itu. Ia beranggapan bahwa dirinya lebih mulia karena ia diciptakan dari api yang bersinar terang, sedangkan Adam hanyalah makhluk yang tercipta dari tanah yang kotor dan diinjak-injak oleh siapa saja. Sebagai akibat dari penolakan ini iblis diusir dari surga dan menjadi makhluk terkutuk untuk selamanya. Jika Iblis yang sudah beribadah ribuan tahun saja terkutuk seketika akibat kesombongannya, lantas bagaimana dengan kita yang ibadahnya masih sangat sedikit?

Dikatakan dalam sebuah syair:
Tawadu' lah, niscaya engkau akan seperti bintang yang mau merendah di atas air, padahal dia sangat tinggi
Dan janganlah seperti asap yang selalu mengangkat dirinya tinggi di langit, padahal dia sama sekali tidak berharga

Orang tawadhu' ibarat bintang yang terlihat di dasar jernihnya air di tengah malam, meski dia berada tinggi di angkasa. Sedangkan orang yang sombong adalah ibarat asap yang selalu mengangkat dirinya padahal dirinya sama sekali tidak berharga.

Oleh karena itu marilah kita berhati- hati dalam menjaga sikap ini dan mencari guru yang bisa mengantarkan kita menuju ketawadhu'an.

Ketiga
Adalah ulama yang menuntun kita dari permusuhan menuju perdamaian (kepedulian).
Rasulullah SAW bergelar Al-Mu'allim (sang guru). Beliaulah guru bagi setiap insan. Namun gelar itu tidak serta- merta membuat beliau acuh dan berlaku seenaknya. Beliau mempunyai kepedulian yang sangat tinggi kepada para umatnya. Hal ini bisa kita buktikan saat para sahabat kelaparan. Beliaulah yang menyiapkan makanan untuk mereka dan beliaulah yang terakhir menikmati sajian itu. Bahkan ketika beliau merasakan pedihnya sakaratul maut, beliau dengan segera meminta kepada Malaikat Izrail untuk menimpakan kepada beliau separuh rasa sakit sakaratul maut yang dirasakan umatnya.

Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sikap panutan sejati. Oleh Karena itu hendaknya kita selalu bersikap seperti beliau dan selalu berguru kepada orang alim yang memiliki kepedulian kepada kaum muslimin. Orang alim yang mengajarkan kita sikap tanggap dan kritis terhadap keadaan, bukan ulama yang suka mengadu domba atau menjelek-jelekkan orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka.

Keempat
Adalah ulama yang menuntun kita dari riya menuju ikhlas.
Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar ibadah kita diterima Allah SWT. Syarat pertama adalah yang berhubungan dengan hukum-hukum dzohir seperti bagaimana syarat dan cara mengerjakan ibadah dengan baik dan benar sesuai cara yang diajarkan Nabi SAW. Syarat kedua adalah keikhlasan mengerjakan semua amalan itu semata- mata karena Allah SWT.

Ibadah yang kita lakukan adalah ibarat surat yang akan kita kirim kepada saudara kita. Agar pesan yang kita sampaikan bisa diterima dengan sempurna, maka kita harus benar-benar memperhatikan isi yang termuat di dalam surat itu. Tidak cukup itu saja. Setelah semua pesan kita catat dengan benar, maka kita juga harus teliti dalam menuliskan alamatnya. Meski isinya benar akan tetapi alamatnya salah, maka surat itu akan sia-sia.

Begitu pula ibadah yang kita lakukan. Walau seluruh bacaan dan cara-cara mengagungkan Nama Allah SWT sudah benar, namun jika semua itu kita kerjakan bukan untuk menggapai ridha Allah SWT melainkan untuk mendapat pujian, maka ibadah kita tidak akan diterima oleh Allah SWT. Oleh karena itu marilah kita pelajari betul-betul sikap ikhlas ini agar ibadah yang kita kerjakan diterima Allah SWT. Carilah ulama yang mengajarkan kita makna keikhlasan, bukan ulama yang suka berpura-pura demi kepentingan dunia belaka.

Kelima
Adalah ulama yang menuntun kita dari ketamakan menuju sifat zuhud.
Rasulullah adalah makhluk pilihan Allah yang semua permintaannya pasti dikabulkan, tak terkecuali dalam masalah kekayaan. Jikalau Rasulullah SAW mau, maka beliau akan menjadi orang terkaya dalam sejarah dunia. Suatu hari Malaikat Jibril menawarkan kepada beliau untuk menjadikan semua barang yang beliau pilih menjadi emas, termasuk gunung sekali pun. Akan tetapi beliau menolak karena bukan itu yang beliau minta. Nabi paham bahwa semua itu sangat rendah harganya dan hanya bersifat sementara. Oleh karena itu beliau hanya meminta agar dapat merasakan lapar dalam sehari dan kenyang di hari berikutnya.

Demikianlah sikap hidup yang di­contohkan oleh Rasulullah SAW kepada segenap umatnya. Beliau siap hidup miskin padahal beliau mampu untuk menjadi orang terkaya. Bagaimana dengan kita?

Demikianlah Rasulullah SAW mem­berikan pentunjuk kepada kita tentang kiat memilih ulama. Jangan sampai kita salah dalam mengambil ilmu yang mulia ini. Walau semua bersumber kepada Ra­sulullah SAW akan tetapi jika kita salah mengambilnya, boleh jadi ilmu ini akan terkontaminasi oleh berbagai kotoran.

Inilah salah satu tujuan diadakannya haul. Dalam acara ini kita disuguhi nasihat- nasihat dan teladan para salafimassholih. Merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Merekalah yang telah berhasil menjalani ujian di atas dunia ini. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa mengikuti langkah mereka agar kita menjadi manusia-manusia yang beruntung seperti mereka.

"Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." (Al-An'am: 90)

Disadur dari Majalah Cahaya Nabawiy
0 comments

Al-Imam Ali bin Abu Bakar As-Sakran

 
 
Nasab Habib Ali bin Abu Bakar As – Sakran

Habib Ali bin Abu Bakar As-Sakran bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh bin Syekh Ali Shohibud Dark bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad bin Sayyidina Ali bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Habib Ali lahir di Tarim pada tahun 818 hijriyah, hafal alquran dan membacanya mujawwad dengan dua riwayat yaitu Abi Amru dan Nafi', hafal kitab al-Hawi karangan al-Quzwani (baik kitab fiqah dan kitab nahwu), guru besar ilmu syariat.

Kakeknya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ketika ibunya mengandung Syaikh Ali, ayahnya Syaik Abu Bakar As-sakran memberitahukan kepada isterinya bahwa anak yang dikandungnya mempunyai maqam yang agung. Syaikh Abu Bakar sakran berkata: "Sesungguhnya ketika anakku sedang dalam kandungan telah terkumpul pada diri Syaikh Ali dua jenis ilmu, akan tetapi hal tersebut masih tersembunyi dan akan terlihat sebelum rambutnya memutih". Dan ketika Syaikh Ali lahir berkata kakeknya: "Sesungguhnya kelahiran anak Abu Bakar adalah kelahiran seorang sufi". Pada malam ke tujuh kelahirannya berkata saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus: "Namakan ia dengan Ali".

Sesudah ayahnya wafat beliau diasuh oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar yang menjaganya dari hal-hal yang merusak serta mendidiknya dengan kebaikan. Ketika pamannya wafat, beliau masuk khalwat dan mendengar suatu perkataan 'Ya ayyuhannafsu mutmainah irji'i ila robbika rodhiyatammardiyah' kemudian beliau keluar dari khalwatnya dan mambaca kitab Ihya Ulumuddin, maka dibacanya kitab tersebut sampai dua puluh lima kali tamat dan pada setiap khatam dalam mambaca kitab , saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus mengundang para fuqara dan masakin untuk mengadakan tasyakuran.

Guru-guru beliau di antaranya Syaikh Saad bin Ali, Syaikh Shondid Muhammad bin Ali Shohib Aidid, belajar fiqih dan hadits kepada al-Faqih Ahmad bin Muhammad Bafadhal. Beliau juga belajar ke Syihir, Gail Bawazir. Di Gail Bawazir beliau belajar kepada para fuqaha dari keluarga Ba'amar, al-Faqih Muhammad bin Ali Ba'adillah. al-Allamah Ibrahim bin Muhammad Baharmiz, Syaikh Abdullah bin Abdullah bin Abdurahman Bawazir, dan tinggal di sana selama empat tahun. Setelah itu beliau pergi ke Aden belajar kepada Imam Mas'ud bin Saad Basyahil, kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitillah pada tahun 849 hijriyah dan tinggal di rubat Baziyad serta belajar kepada ulama di kota tersebut. Kemudian beliau ziarah ke makam Rasulullah saw dan membaca kitab al-Bukhori kepada Imam Zainuddin Abi Bakar al-Atsmani di masjid nabawi.

Murid-murid Imam Ali di antaranya anak-anaknya Umar, Muhammad, Abdurahman, Alwi, Abdullah dan Sayid Umar bin Abdurahman Shahibul Hamra', Syaikh Abu Bakar al-Adeni, Syaikh Muhammad bin Ahmad Bafadhal, Syaikh Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Syaikh Abdullah al-Iraqi, Syaikh Muhammad bin Sahal Baqasyir, Syaikh Muhammad bin Abdurahman Basholi.

Imam Ali seorang auliya' yang mempunyai kefasihan lidah, terkumpul padanya keutamaan dan kepemimpinan, beliau juga banyak mengkaji kitab 'Tuhfah' dan mengamalkan isinya, banyak shalat malam dan sesudahnya beliau banyak menangis, qana'ah, tawadhu'. Di antara keramatnya, jika shalat beliau lupa akan kehidupan duniawi dan tidak pernah membicarakan dunia dalam majlisnya. Beliau pernah ditanya oleh gurunya Syaikh Said bin Ali pada keadaan menghadapi sakaratul maut: 'Apa yang engkau tinggalkan? Beliau menjawab hanya kamar ini.

Berkata saudaranya Abdullah Alaydrus: "Orang yang paling dekat hatinya kepada Allah adalah hati saudaraku Ali". Berkata pula Syaikh Abdullah Alaydrus: "Sesungguhnya apa yang ada pada diriku karena saudaraku Ali, jika terbenam sinar matahari saudaraku Ali, maka terbenam pula sinar matahariku". Berkata Syaikh Umar Muhdhar kepada anaknya Fathimah sebelum dinikahi dengan Syaikh Ali: "Wahai Fathimah, nanti engkau akan menikah dengan seorang wali quthub".

Syaikh Muhammad bin Hasan Jamalullail berkata: "Dalam shalat aku berdoa kepada Allah swt agar diperlihatkan kepada seseorang yang mempunyai rahasia-rahasia-Nya dalam zaman ini, maka aku melihat dalam mimpiku seorang lelaki mengambil tanganku dan membawanya kepada Syaikh Ali".

Imam Ali seorang yang berjalan di atas thariqah kefakiran yang hakiki, dalam tawafnya beliau berdoa: "Allahummajlni nisfal faqir" , tidak mempunyai perasaan benci kepada satu orang pun, membaca hizib di antara isya dan setelah fajar hingga terbit matahari, beliau hafal alquran dalam waktu empat puluh hari. Kitab yang telah dibacanya: Riyadhus Salihin, Minhajul Abidin, al-Arbain, Risalah al-Qusyairiyah, al-Awarif al-Ma'arif, I'lamul Huda, Bidayatul Hidayah, al-Muqtasid al-Asna, al-ma'rifah, Nasyrul Mahatim, Sarah Asmaul Husna dan lainnya.

Sebagaian ulama berkata: "Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, salah satu keistimewaan beliau dapat meruntuhkan gunung, kedudukan dan rahasia al-Faqih al-Muqaddam terdapat padanya". Berkata Imam Nuhammad bin Ali Khirid: "Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat dan perkataannya obat penawar yang mujarrab". 

Imam Ali wafat pada hari Minggu tanggal dua belas Asysyuro tahun 895 hijriyah dalam usia 77 tahun.

Keluarga Habib Ali bin Abu BAKAR AS-SAKRAN


Syaikh al-Imam Ali Bin Abi Bakar As-Sakran (Syaikh al-Thoriqain Wa Mufti al-Fariqoin), wafat di Tarim tahun 895 H. Maqamnya bersebelahan dengan makam pamannya Syaikh Umar Muhdhar. Beliau dikarunia tujuh orang anak laki dan lima anak perempuan, yaitu:
Anak perempuannya: 
1. Al-waliyah Bahiyah (ibu Ahmad al-Musawa dan Fathimah bt. Abi Bakar al-Adeni)
2. Alwiyah (ibu anak-anak Muhammad Ar-Rahilah)
3. Ruqayah (ibu Aisyah bt. Abdurahman Bamagfun)
4. Maryam
5. Aisyah

Anak laki-lakinya: 
1. Abdurahman 

2.Muhammad Mihdhar. ibunya Fathimah bt. Syaikh Umar
3. Umar 
4. Abdullah (anaknya bernama Musyayyah lahir di Tarim dan wafat tahun 976 H, keluarga Musyayyah di India, Habasyah dan di Jawa) 
5. Alwi (wafat tahun 797 H)
6. Hasan (wafat tahun 952 H)
7. Abu Bakar (keturunannya terputus,wafat th 920 H)

1. Syaikh Muhammad Bin Ali bin Abi Bakar As-Sakran. 
Beliau wafat di Tarim tahun 902 H. Keturunannya adalah:
a. Aal Abdullah bin Alwi (Rubat Yaman)
b. Aal Muhammad bin Alwi (Yaman)
c. Aal Saqqaf bin Umar (Khamilah)
d. Aal Abu Bakar al-Irosyah (Abyan, Lihij, Guyus, India)

2. Syaikh Umar Bin Ali bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Wahath tahun 899 H. Keturunannya di Yaman, Makhodir, Rubat Shofa, Hanfar, Abin dan Bilad Rishos.

3. Syaikh Abdullah bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Tarim tahun 941 H. Ayah dari Syaikh Musyayyah, dan dikaruniai dua orang anak laki, bernama:
a. Abdullah (keturunannya di India, Malabar dan Hijaz)
b. Abdurahman (keturunannya di Habasy dan Jawa).

4. Syaikh Hasan Bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat di Tarim tahun 956 H. Dikaruniai tiga orang anak laki, bernama:
a. Muhammad al-Qadhi (wafat di Tarim tahun 973, keturunannya terputus)
b. Umar (wafat tahun 1007 H)
c. Ali.

5. Syaikh Abdurahman Bin Ali Bin Abi Bakar As-Sakran.
Beliau wafat tahun 923 H. Dikaruniai tiga orang anak laki, bernama:
a. As Syech Al Imam Ahmad Syahabuddin (wafat tahun 946 H), mempunyai tiga orang anak:
Uraian mengenai keturunan As Syech Al Imam Ahmad Syahabuddin Al Akbar
As Syech Al Imam Ahmad Shahabuddin Al Akbar, lahir 887 H dan wafat di Tarim tahun 946 H. mempunyai 3 orang putra, yakni:
Umar, wafat di Tarim 957 H. keturunannya ada di Tarim. Mempunyai 4 orang putra yaitu :
1. Husin, wafat di Tarim 997 H, mempunyai 4 orang putra kemudian terputus. 
2. Ali, wafat di Tarim 991 H, keturunannya terputus pada generasi ke 3. 
3. Abdullah, wafat di Makkah 992 H, keturunannya terputus pada generasi kedua. 
4. Syahabuddin, wafat 982 H mempunyai 3 orang putra yakni: 
• Abdurrahman, keturunannya terputus. 
• Muhammad, keturunannya terputus. 
• Umar Al Mahjub, keturunannya tersebar ke Malabar, Taliwang (Sumbawa), Dzofar (Oman), Palembang, Gresik, Tarbeh, India dan Abi Aris. 
Muhammad Al Hadi As Syahid, wafat Syahid di India 971 H. Mempunyai 4 orang putra yaitu:
1. Alwi, terputus. 
2. Ahmad, mempunyai anak Umar Al Mahzub, terputus. 
3. Husin, keturunannya dalam jumlah kecil tersebar di Aden dan Tarim. 
4. Idrus, keturunannya masuk India kemudian tersebar ke Pekalongan, Bulungan, Singapura, Bogor, Jakarta dan Palembang. Keturunan ini sebagian besar memakai gelar Syahabuddin/Shahab, sebagian kecil memakai gelar Al Hadi Al Ahmad Syahabuddin Al Akbar.
 
Abdurrahman Al Qadhi, lahir 944 dan wafat di Tarim 1041 H. Mempunyai 5 orang putra yakni:
1. Abubakar, wafat di Tarim 1061 H, keturunannya tersebar di Malabar, Jakarta, Pekalongan, India dan Palembang. 
2. Umar, mempunyai anak Abdullah (wafat di Besuki 1067 H), Abdullah mempunyai anak Muhammad (wafat 1088 H), keturunannya terputus. 
3. Muhammad Al Hadi, wafat di Tarim 1040 H, keturunannya tersebar di Aden, Malaka, Gresik, Malabar, Tarim, Bogor, Pulau Pinang, Banjarmasin, Samarinda, Sumbawa, Ampenan, Surabaya dan Palembang. 
4. Abdullah, datuk dari Al Hadi bin Ahmad yang ada di Malabar. 
5. Ahmad Syahabuddin Al Asghor, wafat di Tarim 1036 H, mempunyai 4 orang putra yakni: 
• Umar, terputus. 
• Abdullah, terputus. 
• Husin, keturunannya terputus. 
• Muhammad, wafat di Tarim 1100 H. mempunyai 4 orang putra yakni: 
1. Idrus, wafat di Tarim 1163 H. keturunannya menyebar di Malaka, Kedah, Pulau Penang, Palembang (Pegayut). Kelompok ini dipanggil dengan Al Zein bin Idrus Syahabuddin. 
2. Ali, wafat di Tarim 1104 H. mempunyai 4 orang putra yakni : 
• Ahmad, wafat waktu kecil di India, terputus. 
• Muhdhor, keturunannya terputus pada generasi ke 2. 
• Idrus, wafat di Tarim Jumadil Awwal 1128 H, kelompok ini di panggil dengan Al Bin Idrus Syahabuddin. keturunannya tersebar di Tarim, Gresik, Jakarta, Pekalongan, Dhamun (Hadramaut), Solo, Singapura, Surabaya, Batu Pahat (Kalimantan), dan Palembang. 
• Muhammad wafat tahun 1107 H mempunyai 3 orang putra yakni: 
i. Ahmad, (wafat di Thoif), mempunyai seorang putri, keturunannya terputus. 
ii. Syech, wafat di Tarim 1173 H. keturunannya tersebar di Tarim, Bogor, Jakarta, Banyuwangi, Dhamun (Hadramaut), Pekalongan, Bangka dan dalam jumlah yang sangat besar di Palembang. Di dalam keluarga Syahabuddin, keluarga ini disebut Syahabuddin Al bin Syech. 
iii. Husin, wafat di Tarim 1144 H. keturunannya tersebar di Pulau Penang, Kedah, Banjarmasin, Pekalongan, Muar (Malaysia), Cirebon, Toboali (Bangka), Jakarta, Semarang, Singapura, Madura, India, Amman dan dalam jumlah yang sangat besar mereka ada di Palembang. Di dalam keluarga Syahabuddin, keluarga ini disebut Syahabuddin Al bin Husin. Al Habib Husin ini berputra 2 yaitu: 
• Muhammad Az Zhahir (wafat di Palembang), keluarga ini disebut sebagai "Syahabuddin Az Zhahir bin Husin" 
• Abdullah, wafat di Tarim 1183 H. 
Di dalam keluarga Syahabuddin keluarga ini disebut "Syahabuddin Al bin Husin"
3. Umar, wafat di India, keturunannya dalam jumlah sedikit ada di Oman. 
4. Ahmad Syahabuddin, mempunyai anak Muhammad Al Masyhur (datuk dari Al Habib Mufti Hadramaut shohibul Fatwa As Syech Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur). keturunannya ada di Jakarta, Singapura, Surabaya, Sailon, Tarim, Sumenep, Palembang dan Batu Pahat (Banjarmasin). Keluarga ini didalam ilmu nasab disebut "Al Masyhur Syahabuddin". 
 
b. Muhammad al-Faqih (wafat tahun 973 H), keturunannya:
1. Aal Umar Faqih (Deli-Medan, Jawa)
2. Aal Abdullah dan Husin (shohib Bathiha', keturunannya terputus)
3. Aal Muhammad al-Tamar (Malabar, Madinah)
c. Abu Bakar, keturunannya:
1. Aal Ruus (Qasyan)
2. Aal Ahmad bin Abi Bakar (Taiz, Mukallah)
3. Aal Ahmad bin Idrus (Shohib Khoris)

KELUARGA HASAN BIN ALI BIN ABI BAKAR AS-SAKRAN

Hasan bin Ali mempunyai anak bernama: Umar, beliau dikarunia tiga orang anak, bernama:
1. Ali (kakek Al Ba Hasan di Tarim, Jawa dan Kalimantan), mempunyai seorang anak laki bernama:
• Al-allamah Abdullah (shohibul Wahath, wafat tahun 1037 H), keturunannya adalah keluarga al-Wahath. 
2. Hasan (kakek Usman bin Abdurahman, ayah dari Sultan Siak, keluarganya dikenal dengan keluarga Bin Syahab)
3. Muhammad (keturunannya di Sawahil, Siwi dan Zanjibar, wafat tahun 1019 H)
0 comments

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad Shohibur Rotib

Nasab Al-habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad

Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Al Faqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam bin Sayyidina Alwi bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein. Rodiyallahu ‘Anhum Ajma’in.

Beliau dilahirkan pada malam senin 5 Shafar 1044 H / 1624 M di Subair, di pinggiran kota Tarim, Hadramaut, Yaman. Pada tahun kelahirannya, terjadi beberapa peristiwa, yaitu Wafat Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim dan Sayyid Yusuf bin Al-Fasi ( murid Syekh Abu Bakar bin Salim ) dan terbunuhnya Sayyid Ba Jabhaban.

Kedua Orang Tua Beliau

Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad, Ayah Syaikh Abdullah Al-Haddad dikenal sebagai seorang yang saleh. Lahir dan tumbuh di kota Tarim, Sayyid Alwy, sejak kecil berada di bawah asuhan ibunya Syarifah Salwa, yang dikenal sebagai wanita ahli ma’rifah dan wilayah. Bahkan Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad sendiri banyak meriwayatkan kekeramatannya. Kakek Al-Haddad dari sisi ibunya ialah Syaikh Umar bin Ahmad Al-Manfar Ba Alawy yang termasuk ulama yang mencapai derajat ma’rifah sempurna. Suatu hari Sayyid Alwy bin Muhammad Al-Haddad mendatangi rumah Al-Arif Billah Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Habsy, pada waktu itu ia belum berkeluarga, lalu ia meminta Syaikh Ahmad Al-Habsy mendoakannya, lalu Syaikh Ahmad berkata kepadanya, ”Anakmu adalah anakku, di antara mereka ada keberkahan”. Kemudian ia menikah dengan cucu Syaikh Ahmad Al-Habsy, Salma binti Idrus bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Al-Habib Idrus adalah saudara dari Al-Habib Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy. Yang mana Al-Habib Husein ini adalah kakek dari Al-Arifbillah Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein bin Ahmad bin Muhammad Al-Habsy (Mu’alif Simtud Durror). Maka lahirlah dari pernikahan itu Al-Habib Abdullah bin Alwy Al-Haddad. Ketika Syaikh Al-Hadad lahir ayahnya berujar, “Aku sebelumnya tidak mengerti makna tersirat yang ducapkan Syaikh Ahmad Al-Habsy terdahulu, setelah lahirnya Abdullah, aku baru mengerti, aku melihat pada dirinya tanda-tanda sinar Al-Wilayah ( Kewaliyan ). 

Masa kecil Beliau 

Ketika Habib Abdullah berusia 4 tahun, beliau terserang penyakit cacar. Demikian hebat penyakit itu, hingga hilanglah penglihatan beliau. Namun musibah ini sama sekali tidak mengurangi kegigihannya dalam menuntut ilmu. Beliau berhasil menghafal Al Qur’an dan menguasai berbagai ilmu agama ketika masih kanak-kanak. Beliau sejak kecil gemar beribadah da riyadhoh. Nenek dan kedua orang tuanya sering kali tidak tega menyaksikan anaknya yang buta ini melakukan berbagai ibadah dan riyadhoh. Mereka menasehati agar beliau berhenti menyiksa diri. Demi menjaga perasaan keluarganya, si kecil Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyadhoh yang sesunguhnya amat beliau gemari. 
Di masa mudanya beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih, berwibawa dan di wajahnya tidak tampak bekas-bekas cacar yang dahulu menyebabkan beliau kehilangan penglihatannya.

Guru-guru Habib Abdullah bin alwi Al Haddad

1. Al-Quthb Anfas Al-Habib Umar bin Abdurrohman Al-Aththos bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrohman bin Abdullah bin Abdurrohman Asseqaff,
2. Al-Allamah Al-Habib Aqil bin Abdurrohman bin Muhammad bin Ali bin Aqil bin Syaikh Ahmad bin Abu Bakar bin Syaikh bin Abdurrohman Asseqaff,
3. Al-Allamah Al-Habib Abdurrohman bin Syekh Maula Aidid Ba’Alawy,

4. Al-Allamah Al-Habib Sahl bin Ahmad Bahasan Al-Hudaily Ba’Alawy
5. Al-Mukarromah Al-Habib Muhammad bin Alwy bin Abu Bakar bin Ahmad bin Abu Bakar bin Abdurrohman Asseqaff
6. Syaikh Al-Habib Abu Bakar bin Imam Abdurrohman bin Ali bin Abu Bakar bin Syaikh Abdurrahman Asseqaff
7. Sayyid Syaikhon bin Imam Husein bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
8. Al-Habib Syihabuddin Ahmad bin Syaikh Nashir bin Ahmad bin Syaikh Abu Bakar bin Salim
9. Sayyidi Syaikh Al-Habib Jamaluddin Muhammad bin Abdurrohman bin Muhammad bin Syaikh Al-Arif Billah Ahmad bin Quthbil Aqthob Husein bin Syaikh Al-Quthb Al-Robbani Abu Bakar bin Abdullah Al-Idrus
10. Syaikh Al-Faqih Al-Sufi Abdullah bin Ahmad Ba Alawy Al-Asqo
11. Sayyidi Syaikh Al-Imam Ahmad bin Muhammad Al-Qusyasyi

Murid-murid Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad

1. Habib Hasan bin Abdullah Al Haddad ( putra beliau )
2. Habin Ahmad bin Zein Al Habsyi
3. Habib Abdurrahman bin Abdullah BilFaqih
4. Habib Muhammad bin Zein bin Smith
5. Habib Umar bin Zein bin Smith
6. Habib Umar bin Abdullah Al Bar
7. Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahnan As Segaf
8. Habib Muhammad bin Umar bin Toha Ash Ahafi As Segaf
9. dll.

Suatu hari beliau berkata :

”Dahulu orang menuntut ilmu dari semua orang, kini semua orang menuntut ilmu dariku “.

Keaktifannya dalam mendidik dan berdakwah membuatnya digelari Quthbud Da’wah wal Irsyad. 

Beliau berpesan :

“Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada tarekat ( thariqah ) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat ( haqiqah ) dengan bahasa hakikat, ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul Haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”

Ibadah Beliau

Pada masa Bidayahnya ( permulaannya ); setiap malam beliau mengunjungi seluruh masjid di kota Tarim untuk beribadah. Telah lebih 30 tahun lamanya beliau beribadah sepanjang malam. Ketika beliau berada di Bidayahnya, Al-Faqih Abdullah binAbu Bakar Al-Khotib, salah seorang guru Fiqih beliau, berkata :

”Aku bersaksi bahwa Syyidi Abdullah Al Haddad berada di Maqom Sayyid ath-Thoifah Junaid.”
Ratib Al Haddad dan Wirdul Lathif

ketika beliau berusia 27 tahun, beberapa orang ( Syi’ah ) Zaidiyyah masuk ke Yaman. Para Ulama khawatir akidah masyarakat akan rusak karena pengaruh ajaran para pendatang syi’ah itu. Mereka lalu meminta beliau untuk merumuskan sebuah doa’ yang dapat mengokohkan akidah masyarakat dan menyelamatkan mereka dari faham-faham sesat. Beliau memenuhui permintaan mereka lalu menyusun sebuah doa’ yang akhirnya dikenal dengan nama Ratb Al Haddad. Disamping itu beliau juga merumuskan bacaan dzikir yang dinamainya Wirid al-Lathif. Ketika berusia 28 tahun, ayah beliau meninggal dunia dan tak lama kemudian ibunya menyusul.

Keluhuran Budi Beliau

Dalam kehidupannya, beliau juga mendapat gangguan dari masyarakat lingkungannya, Beliau berkata :

Kebanyakan orang, jika tertimpa musibah penyakit atau lainnya, mereka tabah dan sabar; mereka sadar bahwa itu adalah qodho dan qodar Allah SWT. Tetapi jika diganggu orang, mereka sangat marah. Mereka lupa bahwa gangguan-gangguan itu sebenarnya juga qodho dan qodar Allah SWT, mereka lupa bahwa sesungguhnya Allah SWT hendak menguji dan menyucikan jiwa mereka.

Rasulullah bersabda : 

“Besarnya pahala tergantung pada beratnya ujian. Jika Allah SWT mencintai suatu kaum, ia akan menguji mereka. Barang siapa ridho, ia akan memperoleh keridhoannya; barang siapa tidak ridho, Allah SWT akan murka kepadanya.” ( HR Thabrani dan Ibnu Majah )

Habib Abdullah juga menjadikan Ratib Al-Atthas karya gurunya, Habib Umar bin Abdurrahman Al-Atthas sebagai rujukan. Ketika seseorang datang minta ijazah atau izin mengamalkan Ratib Al-Haddad; beliau berkata :

“Bacalah Ratib Guruku, kemudian baru Ratibku”

Ini merupakan cermin bagaimana seorang murid menghormati gurunya, meski karyanyalah yang lebih populer. 

Habib Abdullah tidak pernah menyakiti hati orang lain, apabila beliau terpaksa harus bersikap tegas, beliau kemudian segera menghibur dan memberikan hadiah kepada orang yang ditegurnya. Beliau berkata :

”Aku tak pernah melewatkan pagi dan sore dalam keadaan benci dan iri pada seseorang!”

Dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau lebih suka berpegang pada hadits Rasulullah SAW :

”Orang beriman yang bergaul dengan masyarakat dan sabar menanggung gangguannya, lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak pula sabar menghadapi gangguannya.” ( HR Ibnu Majah dan Ahmad )

Dalam kesempatan lain beliau berkata :

“Sesungguhnya aku tidak ingin bercakap-cakap dengan masyarakat, aku juga tidak menyukai pembicaraan mereka, dan tidak peduli kepada siapapun dari mereka. Sudah menjadi tabiat dan watakku bahwa aku tidak menyukai kemegahan dan kemasyhuran. Aku lebih suka berkelana di gurun sahara. Itulah keinginanku; itulah yang kudambakan. Namun, aku menahan diri tidak melaksanakan keinginanku agar masyarakat dapat mengambil manfaat dariku.”

Beliau menulis dalam sya’irnya :

Bila Allah SWT mengujimu, bersabarlah
karena itu haknya atas dirimu.
Dan bila ia memberimu nikmat, bersyukurlah.
Siapapun mengenal dunia, pasti akan yakin
bahwa dunia tak syak lagi
adalah tempat kesengsaraan dan kesulitan. 

Beliau tidak pernah bergantung pada mahluk dan selalu mencukupkan diri hanya kepada Allah SWT. Beliau berkata :

“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.”
“Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,”

Beliau sangat menyayangi kaum faqir miskin, 

“Andaikan aku kuasa dan mampu, tentu akan kupenuhi kebutuhan semua kaum faqir miskin. Sebab pada awalnya, agama ini ditegakkan oleh kaum Mukminin yang lemah.” “Dengan sesuap makanan tertolaklah bencana.”
 
Karya-karya Beliau

1. An Nashoihud Diniyyah wal Washoyal Imaniyyah
2. Ad Da’watut Tammah wat Tadzkiratul ‘Ammah
3. Risalatul Mu’awanah wal Muzhoharah wal Muazaroh
4. Al Fushul ‘Ilmiyyah
5. Sabilul Iddikar
6. Risalatul Mudzakaroh
7. Risalatu Adabi sulukil Murid
8. Kitabul Hikam
9. An Nafaisul ‘Uluwiyah
10. Ithafus Sail Bijawabil Masail
11. Tatsbitul Fuad
12. Risalah Shalawat ; diantaranya Shalawat Thibbil Qulub ( Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wadawa-iha, wa’afiyati abdani wa syifa-iha, wanuril abshari wadliya-iha, wa’ala alihi washahbihi wasalim.)
13. Ad-Durul Mandzum (kumpulan puisi )
14. Diwan Al-Haddad (kumpulan puisi )

Karya-karya beliau sarat dengan inti sari ilmu syari’at, adab islami dan tarekat, penjabaran ilmu hakikat, menggunakan ibarat yang jelas dan tata bahasa yang memikat. Semuanya ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami. Berisi ajaran tasawuf murni. Beliau berkata :

“Aku mencoba menyusunnya dengan ungkapan yang mudah, supaya dekat dengan pemahaman masyarakat, lalu kugunakan kata-kata yang ringan, supaya segera dapat dipahami dan mudah dimengerti oleh kaum khusus maupun awam.”

Seluruh tulisannya sarat dengan ajaran islam ( tauhid, syari’at, akhlaq, tarekat ) semuanya tersaji bercirikan tasawuf. Dalam Ad-Durrul Mandzum, misalnya beliau menulis :

“Dalam bait-bait yang aku tulis ini, terdapat berbagai ilmu yang tidak yang tidak ada dalam kitab lainnya. Maka barang siapa membacanya secara rutin, lalu berpegang teguh kepadanya, cukup sudah baginya.”

Ada keyakinan di kalangan sebagian kaum muslimin, membaca karya Habib Abdullah bisa mendapatkan manfaat besar, yaitu keselamatan, bukan hanya bagi pembacanya, melainkan juga masyarakat sekitarnya.

Sebagai Mujaddid Abad ke 11 H.

Penganut Mazhab Syafi’i, khususnya di Yaman, berkeyakinan bahwa Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad adalah Mujaddid ( pembaharu )abad 11 H. pendapat ini diutarakan oleh Ibnu Ziyad, seorang Ahli Fiqih terkemuka di Yaman yang fatwa-fatwanya disejajarkan dengan tokoh-tokoh Fiqih seperti Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli.
Seseorang pernah menggambarkan kedudukan beliau dengan ungkapan yang indah,yaitu: 

”Dalam Dunia Tasawuf Imam Ghazali ibarat pemintal kain, Imam Sya’rani ibarat tukang potong dan Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad adalah penjahitnya.”

Beberapa Ulama memberinya beberapa gelar, seperti :

• Syaikhul Islam ( Rujukan utama keislaman )
• Fardul A’lam ( Orang teralim )
• Al-Quthbul Ghauts ( Wali tertinggi yang bisa menjadi wasilah pertolongan )
• Al-Quthbud Da’wah wal-Irsyad ( Wali Tertinggi yang memimpin Dakwah )


Pendapat Ulama tentang Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad.

Al-Arifbillah Quthbil Anfas Al-Imam Habib Umar bin Abdurrohman Al-Athos ra. mengatakan, “Al-Habib Abdullah Al-Haddad ibarat pakaian yang dilipat dan baru dibuka di zaman ini, sebab beliau termasuk orang terdahulu, hanya saja ditunda kehidupan beliau demi kebahagiaan umat dizaman ini ( abad 12 H ). 

Al-Imam Arifbillah Al-Habib Ali bin Abdullah Al-Idrus ra. mengatakan, “Sayyid Abdullah bin Alwy Al-Haddad adalah Sultan seluruh golongan Ba Alawy" 
Al-Imam Arifbillah Muhammad bin Abdurrohman Madehej ra. mengatakan, “Mutiara ucapan Al-Habib Abdullah Al-Haddad merupakan obat bagi mereka yang mempunyai hati cemerlang sebab mutiara beliau segar dan baru, langsung dari Allah SWT. Di zaman sekarang ini kamu jangan tertipu dengan siapapun, walaupun kamu sudah melihat dia sudah memperlihatkan banyak melakukan amal ibadah dan menampakkan karomah, sesungguhnya orang zaman sekarang tidak mampu berbuat apa-apa jika mereka tidak berhubungan (kontak hati) dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebab Allah SWT telah menghibahkan kepada beliau banyak hal yang tidak mungkin dapat diukur.”

Al-Imam Abdullah bin Ahmad Bafaqih ra. mengatakan, “Sejak kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad bila matahari mulai menyising, mencari beberapa masjid yang ada di kota Tarim untuk sholat sunnah 100 hingga 200 raka'at kemudian berdoa dan sering membaca Yasin sambil menangis. Al-Habib Abdullah Al-Haddad telah mendapat anugrah ( fath ) dari allah swt sejak masa kecilnya". 
Sayyid Syaikh Al-Imam Khoir Al-Diin Al-Dzarkali ra. menyebut Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai fadhillun min ahli Tarim (orang utama dari Kota Tarim).

Al-Habib Muhammad bin Zein bin Smith ra. berkata, “Masa kecil Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah masa kecil yang unik. Uniknya semasa kecil beliau sudah mampu mendiskusikan masalah-masalah sufistik yang sulit seperti mengaji dan mengkaji pemikiran Syaikh Ibnu Al-Faridh, Ibnu Aroby, Ibnu Athoilah dan kitab-kitab Al-Ghodzali. Beliau tumbuh dari fitroh yang asli dan sempurna dalam kemanusiaannya, wataknya dan kepribadiannya”.

Al-Habib Hasan bin Alwy bin Awudh Bahsin ra. mengatakan, “Bahwa Allah telah mengumpulkan pada diri Al-Habib Al-Haddad syarat-syarat Al-Quthbaniyyah.”

Al-Habib Abu Bakar bin Said Al-Jufri ra. berkata tentang majelis Al-Habib Abdullah Al-Haddad sebagai majelis ilmu tanpa belajar (ilmun billa ta’alum) dan merupakan kebaikan secara menyeluruh. Dalam kesempatan yang lain beliau mengatakan, “Aku telah berkumpul dengan lebih dari 40 Waliyullah, tetapi aku tidak pernah menyaksikan yang seperti Al-Habib Abdullah Al-Haddad dan tidak ada pula yang mengunggulinya, beliau adalah Nafs Rohmani, bahwa Al-Habib Abdullah Al-Haddad adalah asal dan tiada segala sesuatu kecuali dari dirinya". 

Seorang guru Masjidil Harom dan Nabawi, Syaikh Syihab Ahmad al-Tanbakati ra. berkata, “Aku dulu sangat ber-ta’alluq (bergantung) kepada Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Kadang-kadang dia tampak di hadapan mataku. Akan tetapi setelah aku ber-intima’ (condong) kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad, maka aku tidak lagi melihatnya. Kejadian ini aku sampaikan kepada Al-Habib Abdullah Al-Haddad. Beliau berkata,’Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani di sisi kami bagaikan ayah. Bila yang satu ghoib (tidak terlihat), maka akan diganti dengan yang lainnya. Allah lebih mengetahui.’ Maka semenjak itu aku berta'alluq kepadanya". 

Al-Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi ra. seorang murid Al-Habib Abdullah Al-Haddad yang mendapat mandat besar dari beliau, menyatakan kekagumannya terhadap gurunya dengan mengatakan, ”Seandainya aku dan tuanku Al-Habib Abdullah Al-Haddad ziaroh ke makam, kemudian beliau mengatakan kepada orang-orang yang mati untuk bangkit dari kuburnya, pasti mereka akan bangkit sebagai orang-orang hidup dengan izin Allah. Karena aku menyaksikan sendiri bagaimana dia setiap hari telah mampu menghidupkan orang-orang yang bodoh dan lupa dengan cahaya ilmu dan nasihat. Beliau adalah lauatan ilmu pengetahuan yang tiada bertepi, yang sampai pada tingkatan Mujtahid dalam ilmu-ilmu Islam, Iman dan Ihsan. Beliau adalah mujaddid pada ilmu-ilmu tersebut bagi penghuni zaman ini". 
 
Syaikh Abdurrohman Al-Baiti ra. pernah berziaroh bersama Al-Habib Abdullah Al-Haddad ke makam Sayidina Al-Faqih Al-Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’Alawy, dalam hatinya terbetik sebuah pertanyaan ketika sedang berziaroh, “Bila dalam sebuah majelis zikir para sufi hadir Al-Faqih Al-Muqaddam, Syaikh Abdurrohman Asseqaff, Syaikh Umar al-Mukhdor, Syaikh Abdullah Al-Idrus, Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani, dan yang semisal setara dengan mereka, mana diantara mereka yang akan berada di baris depan? Pada waktu itu guruku, Al-Habib Abdullah Al-Haddad, menyingkap apa yang ada dibenakku, kemudian dia mengatakan, ‘Saya adalah jalan keluar bagi mereka, dan tiada seseorang yang bisa masuk kepada mereka kecuali melaluiku.’ Setelah itu aku memahami bahwa beliau Al-Habib Abdullah Al-Haddad, adalah dari abad 2 H, yang diakhirkan kemunculannya oleh Allah SWT pada abad ini sebagai rohmat bagi penghuninya.”

Al-Habib Ahmad bin Umar bin Semith ra. mengatakan, “Bahwa Allah memudahkan bagi pembaca karya-karya Al-Habib Abdullah Al-Haddad untuk mendapat pemahaman (futuh), dan berkah membaca karyanya Allah memudahkan segala urusannya agama, dunia dan akhirat, serta akan diberi ‘Afiat (kesejahteraan) yang sempurna dan besar kepadanya.”

Al-Habib Thohir bin Umar Al-Hadad ra. mengatakan, “Semoga Allah mencurahkan kebahagiaan dan kelapangan, serta rezeki yang halal, banyak dan memudahkannya,bagi mereka yang hendak membaca karya-karya Al-Quthb Aqthob wal Ghouts Al-Habib Abdullah bin Alwy al-Haddad ra". 
Al-Habib Umar bin Zain bin Semith ra. mengatakan bahwa seseorang yang hidup sezaman dengan Al-Habib Abdullah Al-Haddad ra., bermukim di Mekkah, sehari setelah Al-Habib Abdullah Al-Haddad wafat, ia memberitahukan kepada sejumlah orang bahwa semalam beliau ra. sudah wafat. Ketika ditanya darimana ia mengetahuinya, ia menjawab, “Tiap hari, siang dan malam, saya melihat beliau selalu datang berthowaf mengitari Ka’bah (padahal beliau berada di Tarim, Hadhromaut). Hari ini saya tidak melihatnya lagi, karena itulah saya mengetahui bahwa beliau sudah wafat.”


Wafatnya Beliau
Hari kamis 27 Ramadhan 1132 H / 1712 M, beliau sakit dan tidak ikut shalat ashar berjamaah di masjid dan pengajian sore. Beliau memerintahkan orang-orang untuk tetap melangsungkan pengajian seperti biasa dan ikut mendengarkan dari dalam rumah. Malam harinya, beliau sholat ‘isya berjamaah dan tarawih. Keesokan harinya beliau tidak bisa menghadiri sholat jum’at. Sejak hari itu, penyakit beliau semakin parah. Beliau sakit selama 40 hari sampai akhirnya pada malam selasa, 7 Dzulqaidah 1132 H / 1712 M beliau wafat di kota Tarim, disaksikan anak beliau, Hasan.
Beliau wafat dalam usia 89 tahun, meninggalkan banyak murid, karya dan nama harum di dunia. Beliau dimakamkan di pemakaman Zanbal, Tarim.
Meski secara fisik telah tiada, secara batin Habib Abdullah bin Alawy Al-Haddad tetap hadir di tengah-tengah kita, setiap kali nama dan karya-karyanya kita baca.

al-Quthub Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, mempunyai enam orang anak laki:
1. Zainal Abidin
2. Hasan, wafat di Tarim tahun 1188 H, anaknya Ahmad.
3. Salim
4. Muhammad, keturunannya di Tarim
5. Alwi, wafat di Makkah tahun 1153 H, keturunannya di Tarim
6. Husin, wafat di Tarim tahun 1136 H keturunannya di Aman, Sir, Gujarat


( Dikutip oleh HABAIB.NET dari Majalah Al Kisah No.18/tahun III/29 agustus-11 September 2005 dan Buku Tanya Jawab Sufistik )
0 comments

22 Nasehat Al-Habib Abdullah bin Alwi Alattas dalam Mendidik Anak



22 Nasehat Al-Habib Abdullah bin Alwi Alattas dalam Mendidik Anak

1. “Apabila kalian ingin agar anak-anak kalian menjadi anak yang cerdas dalam berfikir (tangkas), maka lazimkan agar banyak bergerak.”

2. “Apabila kalian ingin agar mereka menjadi anak yang sehat maka lazimkan agar bangun akhir malam.”

3. “Apabila kalian ingin agar mereka bercahaya hatinya dan pemahamannya terbuka, maka lazimkan agar sedikit makan dan rasa lapar.”

4. “Apabila kalian ingin agar mereka berakhlaq bagus maka lazimkan untuk berteman dengan teman yang bagus serta kalian jaga dari teman-teman yang jahat.”

5. Apabila kalian ingin agar mereka memiliki rasa kasih sayang, maka lazimkan mereka untuk mencari ilmu di selain kampungnya dan carikanlah guru selain kalian.”

6. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi anak yang shaleh, maka jangan kalian agungkan urusan dunia di hadapan mereka.”

7. “Apabila kalian ingin agar mereka menjadi waliyullah dan selalu dalam hidayah, maka lazimkan mereka untuk makan makanan halal, serta kalian jaga dengan sungguh-sungguh ¬ dari perkara syubhat.”

8. “Apabila kalian ingin agar mereka mempunyai sifat dari sifat-sifatnya orang mulia, maka pilihlah baginya ibu dari keluarga yang mulia.”

9. “Apabila kalian ingin agar mereka menghormati dan memuliakan kalian, maka jangan banyak berkata kasar yang memberatkan mereka dan jangan banyak berkata lembut yang membuat mereka meremehkannya. Akan tetapi berkatalah kepada mereka seperlunya saja.”

10. “Apabila kalian ingin agar urusan mereka selau dipegang oleh Allah Swt., maka jangan memperbanyak lemah lembut/kasihan kepada mereka.”

11. “Apabila kalian ingin agar mereka selalu beruntung dalam urusan agama dan dunianya, maka wajib untuk kalian selalu ikhlas dalam segala amal dan jauhilah perkara haram dan syubhat.”

12. Apabila kalian ingin agar mereka menjadi pemberani, maka lazimkan kepada mereka untuk dermawan.”

13. “Apabila kalian ingin agar mereka bebas dari sifat-sifat munafik, maka lazimkan mereka untuk shalat berjamaah di masjid pada awal waktu.”

14. “Apabila kalian ingin agar mereka selalu khusyuk dan takut kepada Allah Swt., maka lazimkanlah kepada mereka al-Quran di waktu sahur.”

15. “Apabila kalian ingin agar mereka dijaga dari setiap bencana, maka lazimkan mereka untuk beristighfar di waktu sahur (sebelum Shubuh).”

16. “Apabila kalian ingin agar mereka kaya (kaya hati), tercapai segala cita-cita dan dijaga dari segala bencana, maka lazimkanlah mereka agar selau membaca shalawat kepada Nabi Saw. dengan cara dibaca waktu malam 92 kali dan siang 92 kali, yakni shalawat Thibbil Qulub:

اَللَّهُمَّ صَلِّعَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا , وَنُوْرِ الاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا , وَعَافِيَةِ الاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

(Allaahumma sholli ‘alaa sayyidinaa muhammadin thibbil quluubi wadawaa-ihaa wanuuril abshoori wadhiyaa-ihaa wa‘aafiyatil abdaani wasyifaa-ihaa wa‘alaa aalihi washohbihi wasallim).”

17. “Apabila kalian ingin agar mereka mendapatkan husnul khatimah ketika meninggal, maka lazimkan mereka membaca 41 kali:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ

(Yaa Hayyu Yaa Qayyuumu Laa Ilaaha Illa Anta). Dibaca di antara shalat Qabliyah Shubuh dan shalat Shubuh.”

18. “Apabila kalian ingin agar mereka panjang umur, maka bersedekahlah untuk mereka, dan ajarkan kepada mereka hal tersebut agar mereka mengerjakannya setelah kalian.”

19. “Apabila kalian ingin agar mereka menjadi kuat dan penyabar, maka jauhkan mereka dari kampung halaman untuk menziarahi orang-orang shaleh yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal untuk mendapatkan keberkahan dari mereka.”

20. “Apabila kalian ingin agar mereka selalu berprasangka baik kepada orang-orang pilihan Allah Swt., dan jauh dari berprasangka buruk, maka larang mereka untuk duduk dengan orang-orang bodoh yang tidak peduli dengan perkara agama mereka.”

21. “Apabila kalian ingin agar mereka menjadi seorang pemimpin kaum (orang terpandang), maka jauhkan mereka dari orang-orang bodoh yang tidak peduli dengan perkara agama mereka.”

22. “Apabila kalian menghendaki mereka menjadi pemuka agama (tokoh agama dan masyarakat) maka cegahlah mereka dari pada berkumpul atau ¬bergaul dengan perempuan dan orang tua dan lazimkan bagi mereka berkata benar atau jujur serta tawadhu’ (merendah).”

Itulah beberapa nasehat al-Habib Abdullah bin Alwi Alattas dalam mendidik anak dan juga untuk kita amalkan agar kita mendapatkan manfaat seperti nasehat tersebut di atas.
0 comments
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Habaib - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger